BATASI BALITA KITA DENGAN HP

BATASI BALITA KITA DENGAN HP

Jururejo.ngawikab.id,- Menciptakan Digital Wellbeing  dengan mencegah terjadinya  “Popcorn Brain” pada Anak Indonesia.

Tidak jarang orangtua membiarkan anak bahkan pada balitanya memainkan gadget dengan berbagai alasan, asal anaknya menjadi “anteng” karena asyik dengan gadgetnya, bahkan tidak jarang justru membanggakan diri bahwa anaknya jago bermain dengan gadgetnya.   Kondisi ini yang membuat miris, mengapa? Karena Saat si kecil begitu serius dengan perangkat digitalnya seperti laptop ataupun smartphone, itu bukan berarti dia sedang berkonsentrasi, melainkan sedang ‘dikendalikan’. Tanpa sadar, anak akan mengalami popcorn brain.

Apa itu “Popcorn Brain” Menurut psikiater dan praktisi pendidikan anak di Korea Selatan, Yee-Jin Shin : “Popcorn brain adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kondisi otak anak yang terbiasa dengan layar perangkat digital yang senantiasa merespons stimulus kuat hingga otak meletup-letup,”.

Seorang anak yang terbiasa melakukan banyak hal sekaligus di perangkat digitalnya, maka struktur otak cenderung tidak bisa beradaptasi dengan dunia nyata dikarenakan otak sosialnya tidak akan berkembang. Akibat lanjutan penggunaan perangkat digitalnya secara membabi-buta, orientasi otak akan kebal terhadap stimulus yang diberikan dan menjadikan individu tidak adaptif terhadap sekelilingnya.

Yee-Jin Shin menegaskan “Otak yang dalam keadaan meletup-letup atau popcorn brain akan membuat anak selalu mencari hal-hal yang semakin lama semakin brutal, impusif, cepat, dan menarik buat dirinya sendiri”.

Jika anak telanjur terpapar stimulasi yang sangat kuat itu, maka dia akan merespons datar bila diajak bermain ke alam terbuka.  Anak akan cepat merasa bosan ketika bermain di ruang terbuka dan terlepas dari gadgetnya, tidak jarang anak akan mengamuk dan merengek ketika dijauhkan dari gadgetnya.

Selanjutnya anak yang mengalami popcorn brain akan mengalami penurunan daya konsentrasi karena otaknya akan menyeleksi pada stimulus atau perangsangan yang kuat dan diinginkan dirinya yang pada akhirnya akan melemahkan daya ingat sang anak.  Dampak yang lebih serius lagi adalah tidak berkembangnya otak sosial sang anak dan tidak berkembangnya kemampuan mengendalikan emosinya, kepekaannya akan menjadi lemah karena ambang batasnya selalu menginginkan stimulasi yang kuat jika tidak didapatkan maka sang anak akan merasa jenuh dan kesal.

Yang lebih parah adalah dampak lanjutannya, ketertarikan anak dengan popcorn brain terhadap tulisan hitam-putih seperti pada buku cetak akan berkurang. Akibatnya mereka kesulitan untuk mencerna isi buku, terlebih yang tebal-tebal. Pada akhirnya, mereka akan miskin informasi bermakna, namun berlimpah informasi remahan (twaddle).  Sehingga overload informationmenjadi terjadi.

Di Indonesia, penanganan terhadap anak yang kecanduan smartphone telah dilakukan oleh sejumlah Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Data yang didapat dari rumah sakit jiwa tersebut cukup membuat miris.

RSJ Cisarua, Jawa Barat tahun 2018 yang lalu menangani hingga 12 anak-anak yang kecanduan ponsel dalam sebulan. RSJ Daerah Surakarta, Jawa Tengah hingga pertengahan tahun 2019 telah merawat 35 anak dan remaja  yang kecanduan ponsel .

Para anak dan remaja yang mengalami kecanduan itu jelas akan terganggu waktu belajarnya, waktu bermain dan waktu bersama keluarganya. Tentu saja jika mereka terlanjur ditangani oleh rumah sakit jiwa menunjukkan adanya keterlambatan pencegahan yang semestinya bisa dilakukan sebelum itu. Oleh karena itu dirasakan semakin perlu membatasi akses digital dalam kehidupan anak dan remaja milenial saat ini.

Untuk mencegah Popcorn brain disarankan agar orang tua untuk memperlambat pengenalan ponsel cerdas kepada anak-anak. Persiapkan mereka dengan matang secara mental lebih dulu sebelum dikenalkan dengan ponsel. Meski  tidak ada batasan umur yang pasti  kapan anak mulai dikenalkan dengan ponsel, beberapa contoh yang diberikannya berikut ini bisa dijadikan gambaran para orang tua.

Jajaran petinggi perusahaan teknologi / komputer seperti Google, Apple, Yahoo, HP dan eBay menyekolahkan anak-anak mereka di Waldorf School of Peninsula. Sekolah ini dikenal tidak menyediakan komputer bagi murid-muridnya. Meskipun demikian, Waldorf School tingkat SMA tersebut memiliki 94% lulusan yang diterima di kampus-kampus besar di Oberlin, Berkeley dan Vassar.

Jika para orang tua masih bimbang untuk tidak mengenalkan perangkat digital sejak dini kepada anak-anak mereka, simak apa yang pernah dikatakan Alan Page (salah seorang eksekutif Google) berikut ini:

“Komputer itu sangat mudah. Google sengaja membikin perangkat yang ibaratnya dapat digunakan tanpa mikir. Anak-anak toh tetap dapat belajar komputer sendirian bila mereka beranjak dewasa nanti.”

Yuk kita lindungi generasi kita ke depan dari Popcorn brain dan menciptakan apa yang disebut “Digital Wellbeing” agar anak anak Indonesia lebih sehat jasmani, rohani, inovatif dan produktif di era digtal ini.

Depok 17 Mei 2021

Heru Wiryanto

Co-Founder PsikoUpdate Indonesia – Behavioral Data Scientist

Share and Enjoy !

Shares