MANDI YANG DI SUNNAHKAN

MANDI YANG DI SUNNAHKAN

Jururejo.ngawikab.id,- Mandi setelah Memandikan Mayat, (Setelah memandikan jenazah), disunnahkan untuk mandi bagi yang memandikannya, menurut pendapat jumhur ulama11 (Al-Majmu’, 5/144). Dalilnya adalah sabda Nabi :

“Siapa yang memandikan jenazah maka hendaklah ia mandi dan siapa yang memikul jenazah hendaklah ia berwudhu.”  (HR. Abu Dawud no. 3161 dan At-Tirmidzi no. 993, dishahihkan dalam Shahih Abu Dawud dan Shahih At-Tirmidzi)

Perintah Rasulullah dalam hadits di atas tidaklah bermakna wajib. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh atsar berikut:

1. Ibnu ‘Abbas  berkata:

“Tidak ada kewajiban mandi bagi kalian apabila kalian memandikan orang yang meninggal di antara kalian, karena mayat tidaklah najis. Cukup bagi kalian mencuci tangan-tangan kalian.” (Riwayat Ad-Dara-quthni, Al-Hakim dan Al-Baihaqi. Bila riwayat ini disandarkan atau di-rafa’-kan kepada Rasulullah maka dhaif. Yang benar riwayat ini mauquf sampai Ibnu ‘Abbas  (yakni ucapan beliau). Lihat pembahasan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Adh-Dha’ifah no. 6302)

2. Atsar dari Ibnu ‘Umar, ia menyatakan:

“Kami dulunya memandikan mayat, di antara kami ada yang mandi dan ada yang tidak mandi.” (HR. Ad-Daraquthni no. 191, Al-Khathib dalam Tarikh-nya, 5/424, dengan sanad yang shahih sebagaimana dinyatakan Al-Hafizh, kata Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ahkamul Janaiz hal. 72)

Al-Imam Asy-Syaukani berkata: “Yang berpendapat wajibnya mandi ini adalah Abu Hurairah, Al-Imamiyyah dan satu riwayat dari An-Nashir. Adapun jumhur ulama berpendapat mustahab (sunnah). Mereka mengatakan: ‘Perintah yang disebut-kan dalam hadits yang terdahulu12 dipaling-kan dari hukum wajib (kepada hukum sunnah) dengan dua hadits di atas13. Dan juga fatwa shahabat kepada Asma bintu ‘Umais, istri Abu Bakar, ketika selesai memandikan jenazah suami-nya. Ia berkata kepada para shahabat: ‘Hari ini sangat dingin dan aku sedang puasa. Apakah aku wajib mandi?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Diriwayatkan Al-Imam Malik dalam Al-Muwaththa.” (Ad-Darari, hal. 42)

Mandi setelah Menguburkan Mayat Musyrik/Kafir

‘Ali bin Abi Thalib mengabarkan bahwa ia mendatangi Nabi  untuk memberi kabar meninggalnya Abu Thalib. Nabi pun memerintahkannya:

“Pergilah untuk menguburkannya.” ‘Ali berkata: “Ia mati dalam keadaan musyrik.” Nabi mengulangi perintahnya: “Pergilah untuk menguburkannya.” Kata ‘Ali: “Tatkala selesai menguburkannya, aku  menemui Nabi maka beliau berkata kepadaku: ‘Mandilah’.” (HR. Ahmad, 1/97, Abu Dawud no. 3214, dan An-Nasai no. 2006. Dishahihkan dalam Shahih Sunan Abi Dawud dan Shahih Sunan An-Nasai)

Dalam hal ini ada yang berpandangan bahwa mandi ‘Ali bin Abi Thalib  yang disebutkan dalam hadits di atas adalah karena ia telah memandikan jenazah ayahnya Abu Thalib, sehingga mandinya disyariatkan karena sebab memandikan jenazah bukan karena menguburkan jenazah. Terlebih lagi pada akhir hadits ini ada tambahan dalam riwayat Ahmad dan lainnya:

“Adalah ‘Ali bila selesai memandikan mayat, ia pun mandi.”

Asy-Syaikh Al-Albani t menjawab: “Orang bisa mengatakan bahwa dzahir hadits ini justru menunjukkan disyariat-kannya mandi setelah menguburkan jenazah. Dan tentunya ini tidaklah bertentangan dengan lafadz tambahan yang ada pada akhir hadits. Karena tambahan tersebut adalah kalimat yang baru/terpisah dari kalimat sebelumnya, tidak ada hubungannya. Aku maksudkan, tidak ada dalil dalam hadits tersebut yang menunjukkan bahwa ‘Ali mandi hanyalah karena selesai memandikan jenazah berdasarkan perintah Nabi  kepada ‘Ali untuk mandi dalam hadits tersebut. Bahkan ini (mandi karena memandikan jenazah –pent.) adalah perkara lain sedangkan itu (mandi karena menguburkan jenazah –pent.) perkara yang lain lagi.” (Ahkamul Janaiz, hal. 171)

selengkapnya baca :asysyariah.com

Share and Enjoy !

Shares